Langsung ke konten utama
Buka dasbor
Tidak yakin harus mulai dari mana? Ikuti kuis singkat untuk mendapatkan rekomendasi yang disesuaikan.
Kompas TV

Kompas TV meningkatkan audiens dan pendapatan dengan jurnalisme ponsel pintar.

Meliput berita nasional, politik, olahraga, dan hiburan sejak 2011, Kompas TV adalah stasiun TV yang besar dengan video online dan media sosialnya.

Tantangan

Kompas TV ingin meningkatkan dan menstandarkan siaran video live mereka agar reporter dari seluruh Indonesia dapat memproduksi berita berkualitas tinggi dengan smartphone menjelang Pemilu 2019 (serta selanjutnya). Diharapkan dengan investasi peralatan seluler dan berbagai proses peningkatan, mereka dapat membuat lebih banyak liputan dan menjangkau audiens yang lebih muda, secara lebih luas.

Pendekatan:

Kompas TV membeli peralatan, menerapkan alur kerja dan proses pada tingkat perusahaan, serta melatih staf di 31 kantor daerah seputar praktik terbaik liputan. Setelah sukses meliput Pemilu 2019, mereka pun mengembangkan praktik jurnalisme seluler baru ini untuk mencakup topik dan format lain.

Membangun tim dan kapabilitas: Kompas TV merombak struktur departemen video digital mereka dan merekrut staf baru, memperbesar ukuran tim dari 13 menjadi 40 orang dalam dua belas bulan. Mereka mengganti sebutan reporter dari ‘jurnalis digital’ menjadi ‘kreator konten’, mengubah pola pikir staf agar presenter tidak terkungkung oleh teknik liputan tradisional. Pada saat yang sama, Kompas TV membeli berbagai peralatan baru — 34 smartphone, stabilizer, mikrofon clip-on, lampu LED, dan tripod. Perlengkapan ini didistribusikan ke awak digital di kantor pusat Jakarta serta 31 kantor daerah di 34 provinsi Indonesia.

Melatih staf: Kemudian, Kompas TV memulai program pelatihan jurnalisme seluler dan pembuatan konten digital bagi staf. Manajer digital dan beberapa produser mengunjungi dan menghabiskan dua hari di setiap kantor daerah Kompas TV untuk melatih reporter seputar praktik terbaik, alur kerja dan proses, serta peralatan jurnalisme seluler.

Meliput pemilu: Kompas TV meluncurkan proses liputan seluler baru mereka untuk memberitakan pemilu pada April 2019. Hampir semua liputan live acara ini, di seluruh provinsi, dilakukan dengan cara ini. Liputan live dengan smartphone membuat jurnalis dapat meliput acara secara lebih mudah, lebih murah, dan lebih dekat, karena mereka terbebas dari kerepotan membawa kamera besar dan truk satelit mahal yang mereka biasa gunakan sebelumnya. Liputan pun berjalan lebih cepat dan hemat biaya, sementara proses pasca-produksi juga menjadi lebih mudah — cukup dengan meng-upload atau melakukan live stream langsung ke YouTube.

Melanjutkan proses setelah pemilu: Liputan seluler secara live selama pemilu begitu sukses hingga Kompas TV mengembangkan pendekatan ini ke proyek liputan lainnya — misalnya, liputan berita setiap hari di seluruh kantor cabang dan untuk peristiwa spesial seperti Hari Kemerdekaan Indonesia. Mereka juga mulai bereksperimen dengan format baru menggunakan proses ini, misalnya talk show, video penjelasan, dan vlog berita.

Menetapkan target untuk menarik minat audiens dan membuat konten lokal: Selama proyek ini, Kompas TV menetapkan target upload YouTube bagi setiap kantor untuk meningkatkan engagement dan loyalitas audiens. Setiap hari, 11 kantor daerah yang relatif lebih besar mengontribusikan tiga video digital, kantor daerah yang lebih kecil memproduksi satu atau dua video, dan kantor utama Jakarta menyumbangkan 10 video. Proses ini memastikan liputan yang komprehensif terhadap peristiwa lokal di seluruh Indonesia, yang tidak mungkin dilakukan dengan platform media tradisional.

Solusi

Kompas TV membeli peralatan, menerapkan alur kerja dan proses pada tingkat perusahaan, serta melatih staf di 31 kantor daerah seputar praktik terbaik liputan. Setelah sukses meliput Pemilu 2019, mereka pun mengembangkan praktik jurnalisme seluler baru ini untuk mencakup topik dan format lain.

Membangun tim dan kapabilitas: Kompas TV merombak struktur departemen video digital mereka dan merekrut staf baru, memperbesar ukuran tim dari 13 menjadi 40 orang dalam dua belas bulan. Mereka mengganti sebutan reporter dari ‘jurnalis digital’ menjadi ‘kreator konten’, mengubah pola pikir staf agar presenter tidak terkungkung oleh teknik liputan tradisional. Pada saat yang sama, Kompas TV membeli berbagai peralatan baru — 34 smartphone, stabilizer, mikrofon clip-on, lampu LED, dan tripod. Perlengkapan ini didistribusikan ke awak digital di kantor pusat Jakarta serta 31 kantor daerah di 34 provinsi Indonesia.

Melatih staf: Kemudian, Kompas TV memulai program pelatihan jurnalisme seluler dan pembuatan konten digital bagi staf. Manajer digital dan beberapa produser mengunjungi dan menghabiskan dua hari di setiap kantor daerah Kompas TV untuk melatih reporter seputar praktik terbaik, alur kerja dan proses, serta peralatan jurnalisme seluler.

Meliput pemilu: Kompas TV meluncurkan proses liputan seluler baru mereka untuk memberitakan pemilu pada April 2019. Hampir semua liputan live acara ini, di seluruh provinsi, dilakukan dengan cara ini. Liputan live dengan smartphone membuat jurnalis dapat meliput acara secara lebih mudah, lebih murah, dan lebih dekat, karena mereka terbebas dari kerepotan membawa kamera besar dan truk satelit mahal yang mereka biasa gunakan sebelumnya. Liputan pun berjalan lebih cepat dan hemat biaya, sementara proses pasca-produksi juga menjadi lebih mudah — cukup dengan meng-upload atau melakukan live stream langsung ke YouTube.

Melanjutkan proses setelah pemilu: Liputan seluler secara live selama pemilu begitu sukses hingga Kompas TV mengembangkan pendekatan ini ke proyek liputan lainnya — misalnya, liputan berita setiap hari di seluruh kantor cabang dan untuk peristiwa spesial seperti Hari Kemerdekaan Indonesia. Mereka juga mulai bereksperimen dengan format baru menggunakan proses ini, misalnya talk show, video penjelasan, dan vlog berita.

Menetapkan target untuk menarik minat audiens dan membuat konten lokal: Selama proyek ini, Kompas TV menetapkan target upload YouTube bagi setiap kantor untuk meningkatkan engagement dan loyalitas audiens. Setiap hari, 11 kantor daerah yang relatif lebih besar mengontribusikan tiga video digital, kantor daerah yang lebih kecil memproduksi satu atau dua video, dan kantor utama Jakarta menyumbangkan 10 video. Proses ini memastikan liputan yang komprehensif terhadap peristiwa lokal di seluruh Indonesia, yang tidak mungkin dilakukan dengan platform media tradisional.

Kompas TV sukses membangun kapabilitas video di semua kantor dan melatih reporter mereka seputar praktik terbaik jurnalisme seluler live, yang membantu mereka meningkatkan audiens dan pendapatan dengan pesat.

Lanskap konsumsi berita telah berubah: Semakin banyak orang mengandalkan YouTube dan platform digital lain sebagai sumber berita yang utama. Organisasi media tradisional harus memahami bahwa persaingan saat ini tidak hanya datang dari stasiun TV, tetapi juga kreator konten di YouTube dan media sosial. Untuk sukses di lanskap baru ini, jurnalis harus memperluas pemikiran mereka terkait ide konten/format, riset, narasi, dan kreativitas.

Pikat audiens Anda dengan thumbnail yang menarik: Pemilihan thumbnail sangatlah penting karena gambar yang tepat akan menarik perhatian penonton dan mendorong mereka untuk mengklik video Anda. Kompas TV merekomendasikan gambar beresolusi tinggi, menarik perhatian, dan berdampak kuat. Anda dapat memperbesar peluang engagement melalui pemilihan judul, penggunaan tag, dan deskripsi — gunakan kata kunci yang dioptimalkan untuk SEO agar orang lebih mudah menemukan dan menonton konten Anda.

Gunakan data yang tepat untuk mendefinisikan kesuksesan: Kesuksesan video digital sebaiknya tidak diukur dengan cara yang sama dengan siaran TV tradisional. Gunakan data seperti jumlah suka, waktu tonton, penayangan, pembagian, engagement, dsb. untuk memahami performa konten video Anda dengan tepat. Anda juga dapat memanfaatkan Google Trends, YouTube Trends, dan Google Search (serta topik trending di media sosial) dalam memutuskan topik apa yang akan cocok untuk audiens Anda.

Manfaatkan jurnalisme seluler: Memberdayakan reporter dengan peralatan seluler dan panduan praktik terbaik akan membantu mereka menghasilkan konten secara lebih cepat, lebih murah, dan lebih efisien. Dengan smartphone berkualitas baik, seorang reporter dapat melakukan tugas presenter, operator kamera, dan editor. Sementara itu, konten dapat di-upload langsung ke YouTube, situs media sosial, atau platform yang mereka miliki dan kelola sendiri.

Berkat smartphone, reporter Kompas TV dapat dengan sigap meliput berita hangat dari seluruh Indonesia pada momen krusial. Misalnya, saat demonstrasi terjadi di Jakarta, tim melakukan liputan secara live menggunakan smartphone di tengah massa demonstran dan secara langsung menayangkan streaming-nya di YouTube.

> 450 juta peningkatan views di kuartal 2 tahun 2019
>3,5x pertumbuhan pendapatan dari kuartal 1 ke kuartal 2 tahun 2019
Menggunakan smartphone, kami dapat meliput peristiwa besar lokal pada saat itu juga. Misalnya, saat terjadi kecelakaan di jalan raya antara Bandung dan Jakarta, salah satu anggota awak kami kebetulan sedang berada di lokasi, dan dia meliput kecelakaan itu melalui live streaming selama 7+ jam.
Kompas
tim
Keluar dan kehilangan progres?
Dengan keluar dari halaman ini, Anda akan kehilangan semua progres pada pelajaran Anda saat ini. Anda yakin ingin melanjutkan dan kehilangan progres Anda?